Pages

Jumat, 17 Februari 2012

Cadangan Devisa Indonesia 2012

Bank Indonesia mencatat sampai akhir Januari 2012 cadangan devisa Indonesia mencapai 112 miliar dolar AS atau setara dengan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi A Johansyah di Jakarta Kamis mengatakan, jumlah tersebut meningkat dibanding posisi 31 Desember 2011 sebesar 110,123 miliar dolar AS.

Menjelaskan hasil Rapat Dewan Gubernur BI hari ini, Difi menyebutkan bahwa kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I-2012 diprakirakan akan mencatat surplus meskipun dengan kecenderungan yang lebih rendah.

Sementara transaksi berjalan diperkirakan akan mengalami defisit seiring dengan menurunnya pertumbuhan ekspor, sementara impor masih relatif besar.

Surplus NPI pada triwulan I-2012 akan ditopang oleh transaksi modal dan finansial seiring dengan aliran investasi langsung (FDI) dan portofolio yang diprakirakan akan naik, didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain itu, pencapaian investment grade diprakirakan akan memperkuat sentimen positif terhadap perekonomian Indonesia.

Disisi domestik, Dewan Gubernur menilai perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat, meskipun dengan kecenderungan pertumbuhan yang lebih rendah seiring dengan menurunnya prospek perekonomian global.

Untuk triwulan I-2012, pertumbuhan ekonomi diprakirakan sebesar 6,5 persen, sementara untuk keseluruhan tahun 2012 akan cenderung pada batas bawah prakiraan 6,3-6,7 persen.

Sumber pertumbuhan terutama dari permintaan domestik, didukung oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang tetap kuat. Konsumsi rumah tangga yang kuat ditopang oleh perbaikan daya beli dan keyakinan konsumen yang membaik seiring dengan terkendalinya inflasi.

Sementara, peningkatan investasi didukung oleh iklim investasi yang kondusif dan persepsi terhadap prospek ekonomi Indonesia yang positif.

Sedangkan pertumbuhan ekspor diperkirakan akan melambat seiring dengan perlambatan ekonomi global. Dari sisi produksi, sektor-sektor yang diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi adalah sektor industri, sektor transportasi dan komunikasi, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran.

Pergerakan nilai tukar rupiah cenderung stabil meskipun sedikit melemah. Selama Januari 2012, rupiah secara rata-rata melemah 0,28 persen (yoy) menjadi 9.060 per dolar AS, namun secara point-to-point menguat sebesar 0,65 persen (yoy) ke level 8.990 per dolar AS.

Meningkatnya permintaan valas terkait kebutuhan impor, terutama impor BBM, memberikan tekanan terhadap rupiah. Meskipun demikian, tekanan tersebut dapat diimbangi dengan sentimen positif terkait kenaikan peringkat utang (credit rating) Indonesia

Sumber : www.antaranews.com

0 komentar:

Posting Komentar