Pages

Senin, 05 Maret 2012

Dampak Kenaikan BBM

"Setiap ada kenaikan harga BBM selalu diikuti adanya kenaikan jumlah masyarakat miskin ini sesuai data yang ada. Untuk itu sekarang pemerintah sedang cari formula baru dengan kenaikan BBM tidak disertai tambahnya jumlah orang miskin," kata Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan dalam sebuah seminar di Solo, Sabtu (25/2).

Ia mengatakan, pemerintah sekarang untuk menaikan harga BBM mendapat tekanan yang sangat kuat. Padahal untuk subsidi BBM ini nilainya telah mencapai Rp200 triliun. "Angka ini sudah cukup besar uang sebanyak itu hanya diperuntukan kepada orang-orang yang memiliki mobil saja".

"Ya uang sebanyak itu memang akan lebih baik untuk membangun inprastruktur seperti jalan dan lain-lain yang bisa memberikan nilai tambah kepada masyarakat," kata Menteri.

Menyinggung mengenai masalah mengembangkan ekonomi kerakyatan menuju Indonesia sejahtera, Dahlan mengatakan memang mengenai masalah ini sangat mudah untuk diucapkan, tetapi ini sangat berat untuk diwujudkan.


"Ekonomi kerakyatan seperti yang dimaksud tersebut baru akan tumbuh baik diperkirakan 12 tahun mendatang. Jadi omong kosong kalau saya katakan sekarang sudah seperti itu. Untuk mencapai ini maka para mahasiswa di UNS yang ada sekarang juga sudah mulai melakukan usaha, ini salah satu cara untuk mewujudkan tersebut," katanya.

Ia mengatakan untuk usaha sekarang ini terbuka lebar tidak seperti jaman Orde Baru. "Dimasa Orde Baru kue ekonomi itu dibagi tetapi tidak sampai bawah dan yang paling banyak yang membagi, tetapi sekarang tidak ada yang tukang membagi kue. Jadi silahkan generasi muda untuk merebut kue itu sebanyak-banyaknya," katanya.

Beberapa faktor kenaikan BBM
Kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP)
Penundaan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi saja sudah ada penambahan subsidi BBM.
Konsumsi yang meningkat di atas target.
(Menurut Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Herry Purnomo)

"Usulan pengurangan besaran subsidi penjualan BBM per liter, direncanakan melalui dua opsi," kata Jero Wacik dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Selasa (28/2).

Menteri ESDM memaparkan, opsi pertama adalah kenaikan harga jual eceran premium dan solar sebesar Rp1.500 per liter, sedangkan opsi kedua adalah memberikan subsidi tetap tetap dengan kenaikan maksimum sebesar Rp2.000 per liter baik untuk premium maupun solar. Dan kenaikan harga BBM antara lain karena perkembangan harga minyak dunia akibat konflik politik Timur Tengah dan rata-rata harga minyak mentah yang sudah melebihi asumsi APBN 2012.

Sementara itu, Dirjen Migas ESDM Evita H Legowo mengatakan, dari dua opsi pilihan kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut, maka opsi kedua dinilai lebih bermanfaat dan menguntungkan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Keuntungan itu, antara lain beban subsidi akan terkendali dari gejolak harga ICP, bermanfaat jangka panjang dalam pengendalian subsidi BBM, dan mengedukasi masyarakat untuk menghemat BBM jangka panjang.

Sumber : http://www.antaranews.com/, http://www.mediaindonesia.com/, http://otomotif.kompas.com/

0 komentar:

Posting Komentar